kontroversi seputar PKS. Sejarah berdirinya partai berbasis massa gerakan Islam kampus itu juga penuh lika-liku. Tokoh intelijen Orba, Ali Moertopo, ikut disebut-sebut.

Awal tahun 80-an, ketika rezim Orba sedang di atas angin, re­pre­si terhadap gerakan-gerakan yang kritis terhadap pemerintah begitu keras. Organisasi dakwah dan pengajian di kampus-kampus juga tak terkecuali. Salah satu organisasi dakwah dan pe­ngajian berbasis mahasiswa yang diincar adalah gerakan Tarbiyah yang dinilai sebagai gerakan fundamentalis Islam.

 

Mantan Wakil Kepala Ba­dan Koordinasi Intelijen Ne­gara (Bakin) Letjen (Purn) Ali Moer­topo yang merupakan orang dekat Soeharto pun di­beri tugas khusus untuk “me­ner­tibkan” . Sebagai otak inteli­jen Orba, Ali yang sukses memimpin operasi khusus mengeliminir kekuatan Darul Islam-Tentara Islam Indonesia (DI/TII) dengan sigap melaksanakan perintah itu.

 

Ia tak turun tangan sen­di­ri. Menurut analis politik Char­ta Politika, Burhanuddin Muh­tadi, Ali memanfaatkan ke­dekatannya dengan tokoh-to­koh pergerakan untuk ma­suk ke jaringan gerakan Tar­bi­yah. Salah satunya Soeripto, ak­tivis Gerakan Mahasiswa So­sialis yang kini jadi pentolan PKS.

 

“Sumber saya menga­ta­kan, di Bandung Soeripto ter­ke­nal sebagai orang yang de­ngan kalangan ‘merah’ dan so­sialis. Belakangan dia dekat de­ngan aktivis Tarbiyah ke­ti­ka memfasilitasi demo-demo an­ti-porkas dan SDSB,” ung­kap Burhanuddin

 

Untuk melakukan tugas “me­redam” suara-suara kritis di kalangan aktivis Tarbiyah, Soe­ripto meminta bantuan Hil­mi Aminuddin, putra man­tan pimpinan DI/TII H Da­nu Muhammad Hasan. Tu­gas ini berjalan sesuai ren­cana. Pimpinan gerakan Tar­bi­yah yang selama ini me­ngam­bil sikap konfrontatif de­ngan pemerintah dan Ba­kin berhasil digeser oleh ka­der-kader binaan Soeripto.

 

Alhasil, aktivis Tarbiyah yang awalnya gencar me­nyua­rakan kritik-kritik sosial dan politik, seperti ke­mis­ki­nan dan ketimpangan sosial, beralih mengambil wacana sya­riat sebagai tema per­juang­an me­reka. Dari sini mun­cullah wa­cana ‘janggut’, celana ngatung, jil­bab, dan aneka atribut ke­islaman lainnya.

 

Belakangan, ketika Orba ja­tuh dan kran demokrasi di­buka lebar-lebar, aktivis-ak­ti­ vis Tarbiyah membidani la­hir­nya Partai Keadilan (PK). “Se­benarnya, kalau dilihat dari for­masi awal ideologi PKS itu sa­ngat dipengaruhi oleh KH Hil­mi Aminuddin dan KH Rah­mat Abdullah. Soe­ripto relatif tidak terlalu ba­nyak terlibat dalam pem­ben­tukan karakter ideologi PKS,” tutur Burhanuddin.

 

Formasi ideologi PKS, ka­ta dia, sangat dipengaruhi oleh transmisi ideologi Ikh­wa­nul Muslimin dari Mesir, te­tapi transitnya melalui Arab Sau­di. Tahun 1970-an, Arab Sau­di banyak mengucurkan bea­siswa ke Indonesia lewat Ro­bithoh Al-Islami. “Natsir yang waktu itu menjadi Ketua DI/TII mengirim beberapa aktivis Dewan Dakwah ge­ne­rasi pertama, salah satunya Aan Rohana dan KH Hasib (ang­gota Majelis Syuro PKS), serta Abu Ridho,” ungkapnya.

 

Setelah itu, kata dia, yang menyusul ke Arab Saudi adalah Hidayat Nur Wahid dan orang-orang PKS gene­rasi awal. Di Arab Saudi, me­re­ka bertemu dengan aktivis-ak­tivis dari Mesir dan Syiria yang dikejar-kejar oleh rezim di ne­garanya masing-masing di ma­na saat itu Mesir dan Syi­ria di­pimpin oleh pemim­pin sosialis.

 

“Mereka ditampung oleh Arab Saudi, karena Arab Saudi bu­tuh kaum profesio­nal seperti me­­reka. Orang Ikha­­wanul Mus­limin itu kayak orang PKS se­ka­rang, pro­fesio­nal, terdidik, dan punya ke­mam­puan teknis. Me­reka yang ditampung Arab Sudi itu jadi dosen-dosen yang men­jadi guru Abu Ridho, Hidayat Nur Wahid, dan lain-lain,” tuturnya.

 

Jadi, lanjut dia, perjumpa­an mereka dengan ideologi Ikh­wanul Muslmin itu bukan di Mesir tapi di Arab Saudi. “Ideo­logi PKS sendiri kom­bi­na­si antara ideologi Ikha­wa­nul Musl­imin (IM) dan ideo­logi ke­agamaan Wahabi. Jadi, ge­nera­si awal PKS itu me­nga­nut ideo­logi politik IM dan ideologi ke­agamaan Wahabi,” tandasnya.

 

Munculnya sikap pra­ga­matis di PKS belakangan ini, menurut Burhanuddin, didu­ga karena elite-elite PKS bela­jar dari pengalaman ke­ka­la­han partai berbasis Ikhwanul Mus­limin di Yordania. Pada­hal, mereka sebelumnya sela­lu jadi pemenang. “Kekalah­an mereka disebabkan sikap idea­lis dengan menerapkan dok­trin agama yang sangat ke­tat tapi berimbas pada tu­run­nya dukungan suara pada pemilu berikutnya,” katanya.

 

Kekalahan yang sama ju­ga dialami partai Ikhwanul Mus­limin di Turki yang idea­lis sehingga mereka sulit un­tuk survive. Kondisi ini ak­hir­nya memaksa partai untuk be­rsikap pragmatis saja. Sikap prag­matisme PKS ke­mung­kin­an sebagai bagian dari stra­tegi politik untuk meraup suara.

 

“Terkait iklan Soeharto, da­lam kalkulasi saya, PKS se­dang mencari suara dan du­ku­ngan dari para Soehartois, ba­ik itu di Golkar, Hanura, Ge­rindra, dan Demokrat,” ujarnya.

 

Ketika dikonfirmasi, Hil­mi Aminuddin, melalui sek­re­tarisnya mengatakan tidak ber­sedia diwawancarai. Hu­mas PKS Mabruri juga mem­be­narkan. “Ustadz Hilmi me­mang sengaja tidak kita tam­pilkan ke publik. Ini sudah jadi kesepakatan dalam partai ka­mi,” ujar Mabruri

 

Sementara itu, Soe­rip­to mem­bantah tudingan di­rinya ter­libat jaringan in­te­li­jen un­tuk meredam gerakan Islam fun­da­mental di kampus-kam­pus. “Sa­ya kira nggak betul sa­ma se­kali. Bisa dibaca dalam bu­ku sa­ya ‘Menguak Pe­r­juang­an Soe­­ripto’. Bagaimana se­ja­rah­nya saya ikut Tarbiyah dan ikut pengajian di situ di­jelaskan dan bisa di-cross check bagai­ma­na prosesnya,” ujar­nya

 

Soeripto mengaku ikut pe­ngajian kali pertama tahun 1984 karena tertarik dengan pe­ngajian yang dise­leng­gara­ kan di rumah Hartono Mar­djo­no (mantan politis PBB), dimana yang menjadi guru nga­jinya adalah Hilmi Ami­nuddin yang sekarang men­jadi Ketua Majelis Syuro PKS. “Kelompok pengajiannya bernama Usroh,” ujarnya.

 

Dia membantah disebut-se­but sebagai orang BIN “Me­rah” binaan Ali Moertopo. “Saya nggak pernah kerja di BIN. Boleh dicari dan dita­nya­kan di sana, apa betul saya pernah kerja di BIN apa nggak,” tegasnya.

 

Namun, ia mengaku per­nah kerja di Bakin sebagai staf ahli, yakni sekitar tahun 70-an. “Waktu zaman Pak Yoga (Su­gama) dulu, dan (saat itu) saya belum kenal dengan Ustadz Hilmi,” tutupnya

http://agus1976.wordpress.com/2008/12/12/sejarah-berdirinya-partai-berbasis-massa-gerakan-kampus-itu-juga-penuh-lika-liku/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s